Awalnya tidak ada bayangan
bagi Dwi untuk menjadi seorang dosen. Pada waktu itu, di lingkungan keluarga
Dwi jarang sekali yang mengecap bangku kuliah. Semua berlatar belakang
pendidikan akademi. Almarhum ayah Dwi – yang meninggal saat usia Dwi 2 tahun –
adalah polisi, sementara sang ibu sebenarnya adalah seorang perawat, namun pada
waktu itu direkrut oleh kepolisian sehingga sang Ibu pun bekerja di bawah
keluarga besar polisi. Sejak saat itu, profesi pilihan yang tampak terlihat di
keluarga Dwi hanyalah menjadi polisi. Sementara sejak kecil, Dwi tidak ingin
mengikuti jejak yang sudah ada. Sejak duduk di bangku SMA, yang terbayang dalam
benaknya adalah ia ingin menjadi seorang guru.
Jejak langkahnya di dunia
Teknik Pertanian bermula dari arahan orang tua salah seorang sahabatnya. Saat
UMPTN tahuin 1998, Dwi memilih jurusan Teknik Pertanian. Namun, ternyata Teknik
Pertanian itu bukan bercocok tanam seperti yang Dwi bayangkan, melainkan lebih
ke arah teknik seperti merancang mesin, tata guna lahan, irigasi, bangunan, dan
segala yang berhubungan dengan teknik. Saat itu, Dwi merasa salah jurusan, tapi
justru perasaan salah jurusan itulah yang membuatnya ingin cepat lulus dan
membawa sebuah berkah untuknya. Tidak betah berlama- lama di kampus membuat Dwi
saat itu hidup dari uang saku beasiswa, mencari pekerjaan yang berbeda dengan
yang digelutinya di kampus, Penyiar Radio.
Pada saat itu, Dwi merasa
profesi penyiar bisa menjadi katalisator hidupnya. Selain itu, siaran merupakan
salah satu sumber penghasilan Dwi untuk membiayai biaya operasional
pendidikannya. Meski jadwal siarannya padat, Dwi tetap bisa fokus pada
kuliahnya. Ketekunannya dalam mengerjakan sesuatu telah menghasilkan buah yang manis.
Dwi berhasil lulus kuliah dengan baik, sementara kariernya di dunia radio juga
berjalan gemilang, namanya semakin dikenal.
“Orang itu memang harus cerdas,
tapi yang lebih baik orang itu harus tekun. Tekun itu membuakan kecerdasan”.
Setelah menjadi sarjana,
Dwi masih ingat niatnya untuk menjadi guru, itulah sebabnya ia sangat
bersemangat melanjutkan sekolahnya ke S2 sambil terus siaran di radio Rase FM
Bandung.
Setelah lulus S2, Dwi
melamar menjadi dosen dengan sebuah perasaan dilematis. Pasalnya , saat itu, Dwi
diterima di sebuah bank swasta ternama dengan tawaran gaji 10 juta rupiah.
Pilihan lainnya, sebuah perusahaan jasa konstruksi bangunan menawari Dwi gaji
sebesar 18 kali dalam setahun dengan angka yang sukup memikat. Pilihan hidup
yang meresahkan bagi Dwi yang menjadi tulang punggung keluarganya. Angka yang
menggiurkan untuk sya
rat sebuah kesejahteraan, tapi seolah ada teriakan keras
dari jiwanya, sebuah panggilan yang mendesak hatinya untuk berkata lantang
tentang pilihan hidupnya. Dwi lalu meminta pertimbangan ibunya dan dengan
khusyuk mendengarkan suara hatinya.
“Sebenarnya itu pencarian
lama, ada beberapa dosen yang saya tanyai. Bahkan ketika jadi PNS pun, saya
masih terus bertanya pada beberapa dosen : ‘Pak, apakah pilihan saya benar?’
Pertanyaaan kedua , apakah saya bisa hidup dari dosen? Itu pertanyaan yang crucial karena teman – teman saya sudah
melanglang buana, kehdupannya sangat luar biasa, duitnya banyak, dan lain –
lain. Sementara, kondisi sosial kita selalu underestimate,
kamu tuh PNS, kamu tuh dosen, kehidupan kamu akan standar, jadi itu
pertentangan bathin. Yang meyakinkan itu balik lagi sama ibu. Apa yang kita
lakukan akan berhasil kalau ada restu dari orang tua. Jadi, berpegang pada hal
itu saja”.
Pilihan hidup sudah
diambil. Dwi menjalani hari – harinya sebagai seorang dosen sambil terus
menunaikan keahlian lainnya yang sudah dipupuknya sejak di bangku kulah,
siaran. Menjadi dosen sekaligus penyiar membuat kemampuan otak kiri dan otak
kanan Dwi bekerja optimal. Menjadi penyiar ternyata sangat membantu Dwi
meningkatkan kemampuan berbicara, menjelaskan sesuatu, memaparkan imajinasi
dengan lisan, termasuk membuat hal yang sulit menjadi mudah dimengerti oleh
orang lain.
“Sangat sulit bagi dosen
untuk menjelaskan, tapi bagaimana pelajaran yang sulit jadi terasa mudah itu
butuh skill”.
Kini, Dwi sudah 6 tahun
menjadi seorang dosen dan 10 tahun menjalani kehidupan sebagai seorang penyiar.
Mengajar membuat jiwa Dwi bergelora dan bersemangat. Itulah salah satu
alasannya mengambil S3 di tengah jadwal mengajarnya yang padat, meski harus
menempuh rute Bandung – Bogor. Dwi ingin membekali dirinya dengan ilmu agar ia
bisa menjadi dosen yang mumpuni bagi mahasiswanya.
Kelihaian Dwi membagi waktu
untuk mengajar, siaran, mengerjakan disertasi, tentu bukan hal mudah. Manajemen
waktunya yang rapi merupakan hasil kerja
keras dan kedisiplinan Dwi yang tinggi dan hal ini diakui oleh mahasiswanya
karena selalu mau berbagi cerita di luar urusan akademis. Ia juga selalu tiba
lebih dulu di kelas dan sabar menunggu kelasnya dimulai tepat waktu. Cara
mengajarnya unik. Materi kuliah tertulisnya sudah ia posting di blog www.labsistemtmip.wordpress.com
dan bisa diunduh oleh mahasiswanya. Di ruang kuliah, mahasiswa diminta untuk
menutup buku dan fokus pada apa yang ia sampaikan sehingga bisa menghadirkan
suasana belajar yang interaktif.

Dwi juga selalu berusaha
mengerahkan seluruh kreativitas agar mahasiswanya bersemangat belajar;
menciptakan reward dan punishment berupa hadiah pada mahasiswa
terbaik, entah itu berupa buku – buku hingga dibebaskan dari UAS. Apa yang
dilakukan Dwi terbuti ampuh, membuat setiap mahasiswa berusaha keras berlomba
jadi yang terbaik demi mendapatkan free
pass final test. Pengumuman siapa yang mendapatkan tiket gratis UAS itu
biasanya diumumkan seketika sebelum UAS dimulai. Jadi, mahasiswa tetap harus
belajar.
“Nilai itu bukan dari
hasil, tapi dari proses. Menilai seseorang itu nggak bisa cuma dari hasil,
siapa tau dia sakit, nilainya drop. Dari proses, dari mulai keaktifan dia, soft skill dia, kemauan dia untuk
belajar, punya track record. Yang
paling penting itu, dosen jangan menilai mahasiswa dari nilai saja. Komponennya
itu ada beberapa bobot, jadi nilai akhir sama proses selama 6 bulan itu juga
harus dinilai”.
Tidak hanya mengajar, Dwi
juga rajin berbagi ilmu dan pengatahuan melalui blog www.agroindustry.wordpress.com.
Semangat menulis itu ingin ia tularkan kepada mahasiswanya. Karenanya, Dwi mengharuskan
mahasiswanya memiliki blog dan mengasah kemampuan menulis mereka. Untuk hal
ini, Dwi juga tidak segan memberikan penghargaan bagi mahasiswanya yang
memiliki blog terbaik. Ia mengganjar dengan sebuah tablet pc yang ia beli dari
kocek pribadi. Bagi Dwi, menjadi sebuah kepuasan tersendiri yang tak ternilai
ketika mahasiswanya berlomba meningkatkan diri dan kemampuan. Tak selalu harus
ada hadiah, Dwi meyain jiwa kompetitif di masa kuliah akan menjadi mental yang
tertanam di dunia kerja.
Di setiap akhir sesi
perkuliahan, Dwi uga selalu membuat renungan sederhana untuk mahasiswanya.
Renungan itu menjadi sebuah bagian penting dari aktivitas mengajarnya, karena
di situlah ia bisa menyisipkan idealisme dan nilai – nilai kehidupan pada
mahasiswanya.
“Saya ingin mengajarkan
pada mahasiswa agar menjalani hidup itu saling memberi dan tidak serakah. Kita
hidup itu dengan orang banyak”.
Di kampus, Dwi memang
mendedikasikan waktunya untuk mengajar dan mahasiswanya. Meskipun akhirnyas ia
banyak kehilangan jam makan siang selama jadi dosen karena banyak mahasiswa
datang ke ruangannya untuk berdiskusi bukan hanya soal mata kuliah saja, tetapi
tentang kehidupan.
Motivasinya itu sangat
berarti bagi mahasiswanya. Dwi begitu bangga ketika beberapa mahasiswanya sudah
mulai mau sekolah S2, walaupun tanpa bekal ekonomi yang cukup. Dengan berbekal
keyakinan yang kuat, Dwi membantu menjabarkan langkah – langkah bagi
mahasiswanya untuk bisa mendapatkan beasiswa dan proyek – proyek dari dosen untuk
membiayai kuliah S2 seperti yang dilakukannya dulu. Ia selalu berpesan pada
mahasiswanya agar jangan menjadikan alasan finansial sebagai hambatan untuk
meraih impian mereka.
“Finansial itu jadi momok
luar biasa, jadi alasan luar biasa, membutakan mind set. Nggak boleh seperti
itu. Harus yakin bahwa Tuhan itu Mahamencukupkan. Selalu ada rezeki buat kita,
kalau kita yakin. Jadi kalau yakin, pasti ada jalan. Yakin itu harus 100
persen. Kalau ada sedikit saja keraguan, maka gugurlah keyaknan itu. Tapi,
untuk proses keyakinan itu butuh waktu panjang. Sepanjang usia kita”.
Dwi sangat yakin seorang
dosen bisa punya banyak kesempatan untuk mengkloning kebaikan, semangat
kebangsaan, semangat berbagi, semangat bersyukur, ikhlas, dan idealisme, bagi
mahasiswanya selama di bangku kuliah. Empat tahun di bangku kuliah merupakan
sebuah proses yang panjang dalam pembentukan sebuah karakter.
Idealisme bagi Dwi bukan
barang klise. Sepertiya hal itu pua yang membuat Dwi memilih untuk terus
mengajar dengan segala kondisi dan keterbatasan yang ada di Indonesia. Padahal
jika ia mau, banyak tawaran menggiurkan yang bisa ia pertimbangkan, apalagi setelah
ia lulus S3 dan menjadi doktor muda. Dwi yang melakukan penelitian di beberapa
negara Asia itu pernah mendapat tawaran kontrak mengajar selama 2 tahun dari
Malaysia dengan gaji sekitar 60 juta rupiah/bulan. Tergiur, sudah pasti. Tapi
Dwi ingat kembali niat awalnya untuk mengajar dan bermanfaat untuk almamater
dan Indonesia, dan justru hal itu malah membuatnya ingin membuktikan bahwa
tanpa perlu ke luar negeri ia bisa menghasilkan pendapatan sebesar tawaran itu
dengan ilmu yang sudah didapatkannya. Idealisme masih melekat kuat dalam
jiwanya untuk menjadi bagian dari perubahan di Indonesia melalui mengajar.
Baginya, apa yang didapatkannya saat ini sudah cukup.
“Kita harus punya
keyakinan, Tuhan Maha Mencukupkan kalau kita mau. Semua harus dijalankan dulu.
Ada kemauan, ada usaha, ada do’a dan niat. Miracle.
Keajaiban. Percaya itu”.
Target selanjutnya adalah
menjadi seorang profesor. Baginya, gelar profesor bukan hanya keilmuan, tapi secara pribadi harus bia dan punya
manfaat hidup yang jauh lebih besar.
Dwi mengaku sangat bangga
dan bersyukur mendapatkan pekerjaan sebagai dosen. Rasanya ada kebahagiaan yang
luber dalam hatinya ketika menemukan mahasiswa datang kepadaya setelah jam
kuliah untuk bertanya sesuatu di luar mata kuliah. Ia juga selalu mendorong
mahasiswanya untuk menghasilkan karya, apapun itu.
“Kita harus berkarya,
terutama dosen. Jadi ketika orang mencari nama kita di google, bukan Cuma muncul
di facebook, tapi karyanya itu harus keluar”.
Di tahun 2011, Dwi
menginisiasi berdirinya Loopies Radio di kampusnya. Melalui Online Radio
Streaming itu mahasiswanya bisa berekspresi dan mendapat kegiatan yang positif
sambil mengerjakan tugas – tugas kuliahnya. Loopies radio seolah jadi obat bagi
kepenatan mahasiswanya dan menjadi energi bagi mahasiswa untuk tetap bisa
belajar dengan cara yang menyenangkan. Kecintaannya mengajar membuat Dwi selalu
menciptakan inovasi yang datangnya dari hati.
*****
Ini adalah satu dari banyak hal yang kaya inspirasi yang terdapat dalam buku '23 Episentrum' karya Adenita.